Tampilkan postingan dengan label Kisah inspiratif dan motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah inspiratif dan motivasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Juni 2018

Gadis Bermata Jelita


Untuk Gadis Bermata Jelita…
Assalamu alaikum,

Saat menulis ini, aku tidak tahu kamu di mana. Namun aku masih mengingat betul perjumpaan kita. Pertengahan 2002, aku menjadi anggota komite sebuah TK swasta di Denpasar. Aku ikut kunjungan ke Sekolah Berkebutuhan Khusus bersama murid TK.

Ilustrasi: Karya putri ke-2 saat balita


“Bu, saya mau cuci tangan,” ucapmu lirih.

Lalu kau berjalan sendiri menyisiri pinggiran bangku. Langkahmu hati-hati. Sesampainya di ujung rungan, kau condongkan badanmu ke depan, lalu kau putar kran air. Kau basuh kedua tanganmu, kau bilas bersih, lalu langkahmu kembali ke tempat semula. Kau pintar menemukan kembali tempat dudukmu tanpa ada yang memandu.

Aku lupa siapa namamu, namun aku bisa mengenang perbincangan kita waktu itu.

“Sudah sarapan?” kulontarkan tanya di sela-sela acara.

Kau mengangguk, “Selalu sarapan sebelum berangkat.”

Kubantu membetulkan kain penutup kepalamu yang miring ke kiri.

“Terima kasih, Bu Guru,” suaramu sopan mengetuk perasaan.

Kubisikkan padamu, “Ini bukan Ibu Guru, ini orang tua murid TK yang sedang bermain ke sini. Panggil, “Bunda”, ya.

“Oh iya, maaf,” lagi-lagi kau mengangguk manis. 

Kuraih tangan mungilmu, kupegang erat sepanjang acara. Melalui salah seorang pengajar, kutahu, kau terlahir seperti bayi umumnya. Kala itu kedua orang tuamu belum menyadari semuanya. Baru saat usiamu enam bulan, kedua orang tuamu harus menerima kenyataan memiliki bayi tuna netra. Aku memelukmu seketika.

Jika gurumu tidak menceritakan keadaanmu, sulit bagiku mempercayai kamu menjadi salah satu siswi di sekolah itu. Kau tak ubahnya bocah pintar lainnya. Bernyanyi ceria, bercanda, berlarian tanpa khawatir jatuh. Satu keadaan yang membedakan dirimu dengan anak-anak umumnya, saat kau membaca. Begitu terampilnya kau mengeja huruf-huruf braile.

Saat beristirahat...

“Disuapin?” tawarku berharap kau mengangguk lagi.

“Terima kasih, bisa makan sendiri,” kedua matamu bersinar menerangi hati.

Kutunggui kau selama makan, sambil bercerita. Kedua matamu berpijar. Senyummu selalu mengembang seolah tak ada yang kurang. Dalam pandanganku kau demikian sempurna. Di usiamu lima tahun kau telah banyak memberiku pemahaman.

Nak, yang kupanggil Gadis Bermata Jelita
Kau tak pernah tahu, sejak itu dirimu salah satu penyemangat hidupku. Pada setiap langkah berat dan nyaris berhenti, terputar kembali perjumpaan singkat kita. Pertemuan yang tidak pernah kita rencanakan. Perjumpaan yang telah diatur sedemikian rupa olehNya. Aku meyakini ini sebagai cara Tuhan mengingatkan diriku untuk jangan pernah menyerah pada keadaan. Sesulit apapun!

Nak, yang sekarang menjelma gadis belia…
Tetaplah menebar semangat pada sekelilingmu. Sebarkan harapan-harapan baru lewat pendar  kedua matamu. Kedua penglihatanmu tak mampu bercerita keindahan dunia, akan tetapi sorotmu mampu menerangi hati-hati sunyi. Semoga kau mampu meraih mimpi yang pernah kau bisikkan padaku waktu itu, “Aku ingin menjadi guru.”

Nak, yang kujuluki sebagai guru kehidupanku…
Sosokmu mengingatkanku pada Helen Keller. Gadis tuna netra lahir di Alabama, 27 Juni 1880. Berkat kegigihannya ia menjelma sebagai penulis, aktivis politik, dan dosen yang melahirkan banyak buku. Tanpa kau sadari kau telah mewarisi semangat penulis buku The Strong of My Life itu. Semoga aku bisa terus belajar darimu dan dari teman-temanmu, bahwa hidup ini tentang apa yang bisa kita berikan, bukan apa yang kita inginkan. Terima kasih, ya, Nak.

Salam sayang Bunda untukmu entah di mana sekarang...

 Wassalam.

Selasa, 22 Mei 2018

Menjadi Hamba yang Pandai Bersyukur


Bersyukur di tiap keadaan, agar bertambah nikmat Allah untuk kita.

    


            Sebut saja namanya, Yanti, pelajar SMU kelas X di kota N tidak pernah memilih peran sebagai gadis cadel. Ia tidak ingin menjadi bahan ejekan setiap bicara di kelas, kantin, atau halaman sekolah. Namun jika takdir menggariskan Yanti sebagai gadis yang bicaranya kurang jelas, terkesan seperti balita belajar mengeja kata, siapa yang sanggup menolak? 

            “Aku malu, tiap bicala semua teltawa, hiks...” isak Yanti pada pundak Siti, teman sebangkunya.
            “Sudahlah, biarin saja, toh nilai kamu selalu tinggi di kelas,” hibur Siti.
            Yanti mengangguk. “Iya, tapi meleka teltawa teyus dengal sualaku.”
            “Sudahlah...” Siti kembali menghibur kali ini sambil makan tahu goreng pemberianYanti. “Makasih, tahumu empuk dan gurih.”

            Putaran waktu berlalu. Yanti ingin melanjutkan kuliah namun apa daya, orang tuanya minta Yanti bekerja satu atau dua tahun dulu, setelah itu baru kuliah. Keterbatasan biaya menjadi kendala untuk orang tua Yanti yang memiliki lima orang anak. Yanti anak pertama.

Dengan penuh rasa syukur, Yanti turuti keinginan orang tuanya. Ia kemudian membantu orang tuanya mengurus usaha pembuatan tahu di kampungnya. Nilai matematika Yanti yang selalu menonjol selama sekolah terlihat di sini. Yanti begitu pintar mengitung rugi laba usaha tahu milik orang tuanya. Bahkan Yanti bisa memberi masukan pada orang tuanya cara menghemat biaya agar laba lebih banyak didapat tanpa mengurangi kualitas tahu.

            Dua tahun setelah terjun di pembuatan tahu, Yanti mendapat kepercayaan mengelola usaha tahu yang sengaja disiapkan orang tuanya untuk Yanti. Yanti menurut. Tak sedikit pun ia berani membantah. Toh keinginan orang tuanya bukan sesuatu yang melanggar nilai agama.

Dua belas bulan Yanti mengelola usaha tahu, nama tahu ‘Yan’ sangat terkenal di daerahnya bahkan hingga keluar kota. Nasib baik Yanti masih berlanjut. Ia kemudian diperistri seorang pengusaha yang sangat tertarik pada keuletan Yanti dalam berbisnis. Yanti bahagia dan bersyukur atas skenario langit yang ditujukan padanya.
***
Kisah Yanti di atas mengingatkan saya pada nasihat almarhumah Ibu untuk ketiga anaknya. Teman-teman barangkali juga pernah mendengar ucapan orang tua yang kurang lebih seperti ini, ucapan orang tua untuk anaknya itu malati atau akan terbukti. Maksudnya, bahwa setiap kalimat orang tua untuk putra putrinya langsung tertulis di buku catatan Malaikat, dan hak Allah untuk  mengabulkan atau menggantinya dengan sesuatu menurut kehendakNya. Jika ucapan orang tua untuk anaknya adalah kebaikan, alhamdulillah, sebab cepat atau lambat kebaikan sebagaimana yang terucap dari mulut orang tua akan terwujud. Pun sebaliknya, jika ucapan itu mengandung celaka, sebagai anak maka tentu harus segera istighfar dan memohon maaf pada orang tua. Bisa jadi kalimat tersebut keluar oleh beratnya perasaan orang tua menahan marah atau hilangnya kesabaran orang tua melihat kelakuan anaknya.

Sikap Yanti menghadapi keputusan orang tuanya untuk menunda kuliah diterimanya dengan penuh rasa syukur. Walaupun bekerja di perusahaan tahu bukanlah cita-citanya, Yanti tetap melakukan pekerjaan penuh rasa syukur dan tanggung jawab. 

Sikap Yanti tersebut mengingatkan kita pada firman Allah. Kami telah mengaruniakan hikmat kebijaksaan kepada Luqman: “Bersyukurlah kepada Allah! Sebab barangsiapa yang bersyukur, berarti ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang tidak bersyukur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dan terpuji.” (Al-Luqman: 12)

Ayat di atas menjelaskan bahwa efek bersyukur atas nikmat-nikmat Allah akan kembali pada hambaNya. Allah akan menambah nikmat jika hambaNya pandai bersyukur dan seandainya terdapat hamba Allah yang tidak bersyukur maka Allah tetap Maha Kaya dan terpuji. Subhanaallah.

Janji Allah bahwa jika hambaNya bersyukur maka akan mendapat nikmat lainnya terlihat pada keberhasilan Yanti dalam mengurus perusahaan tahu. Ia tidak menduga jika niatnya membantu orang tua akan mengantarkan dirinya menjadi pengusaha tahu dan disunting seorang pengusaha. Yanti yang cadel, yang selalu menjadi bahan tawaan teman-teman sekolah, tak lagi mempermasalahkan kekurangannya. Sebab menurutnya, nikmat Allah jauh lebih besar dibandingkan kelemahannya itu.

Bersyukur pada apapun yang kita miliki akan mengundang nikmat Allah lainnya. Bersyukur tinggal di kampung jauh dari gemerlap kota, maka Allah memberi nikmat udara segar melimpah ruah. Coba kalau harus membayar biaya udara segar jauh polusi setiap hari, sudah berapa duit melayang. Bisa-bisa nasib dompet seperti bawang merah, yang jika dibuka langsung ingin menyeka air mata. Duh, melas. Bersyukur belum punya gadget terbaru seperti milik teman, coba kalau punya hape seharga tujuh juta rupiah terus pas jalan-jalan di mall, teman-teman minta ditraktir minum. Masak iya mau menggiring mereka keluar, lalu beli es teh saja di pinggir trotoar. Bersyukur kalau ke sekolah naik angkot atau nebeng teman atau diantar Bang Ojek walaupun maksud hati bisa naik kendaraan pribadi. Tapi itu berarti harus bangun dan berangkat pagi-pagi, jika tidak ingin terlambat sekolah terlebih yang bertempat tiinggal di kota besar penuh kemacetan.

Dari contoh di atas, bisa dipahami bahwa ternyata banyak cara bersyukur atas seluruh nikmat yang diberikan Allah untuk hambaNya. Kita harus pandai mensyukuri nikmat yang diberikan gratis olehNya. Terbayang tidak, seandainya kita harus membayar biaya bernapas setiap hari, atau tidak usah sehari. Satu jam saja. Misalnya, tarif bernapas lega tanpa oksigen sekarang Rp10,000,00 per jam. Naik 20% dari bulan kemarin karena saat ini polusi udara merebak di mana-mana. Coba teman-teman itung, berapa total tagihan untuk bernapas sehari? Yup, totalnya Rp240.000,00 sehari. Itu satu orang. Kalau seisi rumah lima orang? Berapa total tagihan seminggu? Satu bulan? Satu tahun? 

Apakah hanya nikmat yang bersifat materi saja yang harus disyukuri? Yang untuk mendapatkannya harus dengan rupiah? Yang untuk memilikinya harus bersusah payah? Tidak!
Yuk kita merenung sebentar. Apakah untuk memiliki Ibu dan Ayah, Emak dan Bapak, Mama dan Papa, Mami dan Papi, Mommy and Daddy sekarang ini, teman-teman harus memesan khusus pada Allah SWT? (Eh tau gak sih, ajib dech punya nyokap bokap baik, penyayang, keren. Dulu kan emang gue udah order ama Allah sebelum ortu lahir ke dunia). Tentu tidak seperti itu cara kedua orang tua berada di bumi ini. Mereka ada atas kehendakNya lalu ditakdirkanlah sebagai perantara teman-teman lahir di dunia. Lewat kemurahan Allah teman-teman punya orang tua yang penyayang dan penuh kasih; yang tidak tidur sepanjang malam setiap buah hatinya sakit, yang tidak berhenti bekerja sebab anaknya minta baju lebaran, yang harus menjual sebagian harta demi sekolah anak, yang rela kulitnya terbakar matahari di tengah sawah untuk cita-cita anak, dan masih banyak bentuk kasih sayang orang tua pada anaknya. Tidak dipungkiri ada sebagian orang tua tega berbuat jahat kepada anaknya dan itupun atas kehendak Allah yang hanya Ia yang tahu maksudnya sebab pada dasarnya semua orang tua sangat menyayangi anaknya.

Lalu, sudahkah kita bersyukur atas nikmat ini? Sudahkah kita bersyukur memiliki saudara kandung; adik, kakak, yang keberadaan mereka walau sering menyebalkan tetap bikin kangen jika berjauhan? Sudahkah kita bersyukur punya sahabat yang mengerti perasaan, yang bersedia menjadi tempat curhat ketika kita enggan bercerita pada orang tua dan saudara? Sudahka kita bersyukur memiliki tetangga sebaya yang peduli? Bukan saudara jauh yang datang pertama saat kita terbaring sakit, melainkan tetangga baik. Sudahkah kita bersyukur bertemu guru yang mampu membimbing, sabar menerima kekurangan, tidak bosan menasihati demi kemajuan prestasi, dan bersedia mengganti posisi orang tua di sekolah? Semoga Allah melipatgandakan rasa syukur ini sehingga bertambah terus karunia Allah untuk kita. Aamiin.
“Maka ingatlah kepadaKu, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepadaKu, dan janganlah kamu ingkar kepadaKu.” (Al-Baqarah: 152)        

Senin, 25 September 2017

Hadiah Allah



Gerimis akhir September sore ini menyeret anganku ke masa silam…
Dulu sekali, aku pernah punya kegiatan segambreng. Berenang, senam, dan kadang-kadang menari. Semasa kuliah, aku sering diajak teman ke masjid kampus mengikuti pengajian rutin. Setiap di masjid, aku selalu sibuk mengatur cara duduk. Aku belum berpakaian sebagaimana muslimah lainnya yang memakai hijab. Setiap kali mengikuti kajian rutin di masjid, buru-buru aku mencari mukena untuk menutup tubuh bagian bawah. Duh, malu sekali waktu itu.
Suatu Malam…
            Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan aku mencari sesuatu. Sesuatu itu akhirnya menghampiriku, di malam yang hening, tepat di usiaku yang ke-20. Alhamdulillah Ya Allah. Teman-teman sempat bengong melihat penampilan baruku. Ada yang histeris memeluk dan menumpahkan air mata syukur. Ada yang memandang tidak suka entah sebab apa. Ada yang terang-terangan mencibir dan berani bertaruh, umur kerudungku hanya seumur jagung. Ada yang mencoba merontokkan niat hijrahku dengan mengingatkan sederet jadwal renang dan senam.
Saat itu pakaian renang atau senam untuk pemakai hijab belum seperti sekarang ini; yang tetap bisa berenang dengan pakaian renang syar’i. Ini berarti ketika aku telah memutuskan berhijrah meninggalkan pakaian lama, maka berhenti pula kegiatan berenang, senam, serta menari. Tidak masalah! Aku ingin menjadi wanita salihah.
Bersama buah hati. Semoga istiqamah dalam niat memperbaiki diri.
Sambutan teman-teman akan penampilan baruku belumlah usai. Aku menerima segebok surat kaleng. Sayang banget kakimu sekarang kau balut kain panjang. Sialan! Aku tuch paling suka ngintip kamu renang. Boddy cakep kok ditutup, dasar sok alim! Astaghfirullah. Surat-surat itu semakin membuka mataku, betapa banyak dosa yang telah kuhimpun jika aku tidak segera berhijrah.
Akhirnya, rangkaian teror dalam surat kaleng itu justru menguatkan niat; Bismillah Ya Allah, aku berniat berhijab untuk mencari ridhaMu, tolonglah aku menghadapi semua tantangan berhijrah ini, tiada hal sulit jika Engkau menghendakinya mudah, aamiin. Sejak itu ke mana pun pergi aku berhijab.
Hadiah…
Dua hari setelah wisuda di sebuah program diploma di kota Malang, aku membaca sebuah lowongan pekerjaan di luar kota. Lowongan itu sesuai jurusan saat kuliah. Aku mencoba melamarnya dan dua minggu kemudian aku mendapat panggilan interview, berlanjut sederet tes tulis. Satu bulan setelah proses seleksi tersebut, aku kembali menerima panggilan.
Namun, betapa aku terpana saat berada di lokasi. Di antara lima pelamar kerja yang semua wanita, hanya aku yang berhijab. Allah, jika Engkau takdirkan aku menjemput rezeki di sini, tiada yang tidak mungkin.
Semua pelamar meninggalkan ruangan dengan wajah sumringah. Sepertinya mereka lancar melewati panggilan terakhir ini. Aku ikut senang.
Giliranku melewati proses wawancara.
“Kenapa pakai kerudung?” tanya Kepala Bagian Personalia.
Aku menjelaskan alasanku dengan yakin, bahkan aku berani mencomot sepenggal firman Allah SWT tentang kewajiban menutup aurat bagi seorang muslimah.
Bapak Kepala Bagian Personalia itu tersenyum. “Seandainya kamu diterima di perusahaan ini tetapi harus melepas kerudung, bagaimana?”
Aku terdiam sejenak.
“Maaf Pak, sejak memakai kerudung saya bertekad tidak ingin melepasnya. Kalau memang ini keputusan perusahaan untuk tidak menerima karyawati berkerudung, saya memilih mencari pekerjaan di tempat lain.”
Senyum Bapak berkaca mata itu mengembang. Senyum yang tak kumengerti maknanya. Tepat satu bulan kemudian, datang keputusan dari langit bahwa aku diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta nasional. Alhamdulillah. Sebuah kenyataan yang awalnya sulit kupercaya. Baru saja diwisuda, langsung diterima kerja, di saat teman lainnya masih sibuk mencari-cari lowongan. Air mataku luruh saat melihat besarnya gaji yang akan kuterima. Niatku berhijab ingin memperbaiki diri, ingin meninggalkan keburukan-keburukan, namun Allah memberiku lebih. Walaupun banyak tantangan saat berniat menutup aurat, Alhamdulillah aku merasa jadi lebih baik dengan berhijrah. Semoga bisa menjadi hikmah, menjadi seorang muslimah inspiratif bagi kaumku khususnya untuk buah hatiku. Tak ada terlambat untuk sebuah niat baik.
Gerimis akhir September reda, namun kedua pipiku semakin basah oleh air mata syukur.

 Note: Kisah ini ditulis untuk mengikuti sebuah kompetisi blog saliha.id. Ikutan kirim yuk...

Selasa, 30 Mei 2017

Tuwir-Tuwir Punya Karya



Senja berbalut jingga,
Cahaya keemasan menerobos asap teh
Menyisakan lengkung senyum di beranda
Berhias kepak burung berarak
Celoteh bocah digiring pulang

Sore yang genit,
Duduk wanita beruban memilin imaji
Menyulam kata mengasah makna
Itulah aku!
:Yang berkarya di usia senja
 
Alhamdulillah. Semoga istiqamah menebar manfaat.
            Sejak berseragam merah putih aku suka membaca. Bacaanku waktu itu kebanyakan buku perpustakaan SD. Berhubung jumlahnya terbatas, beberapa buku kubaca hingga tiga kali, sampai hapal titik komanya. Pernah suatu hari aku membaca cerita seru. Namun, ujung halaman majalah anak itu sobek. Aku tak menemukan endingnya. Perasaan rasa ingin tahu dan kecewa beraduk, sejak itu aku gemar menulis cerita-cerita singkat.
            Setiap hari aku menulis puisi di buku tulis lusuh. Saat berantem dengan teman, kutulis kejadian lengkap dengan cacian dan tanda seru yang membuatku puas meskipun tak harus membalas. Ketika mendapat hukuman di sekolah kuciptakan bait-bait jengkel berujung tawa, dengan begitu tak kusimpan dendam. Dan, saat pertama kali menerima surat merah jambu dari kakak kelas, kubalas rayuan gombal itu dengan puisi nasihat, “Lebih baik kita bersahabat”. Gaya, ya! Hahaha…
            Kebiasaan mencipta puisi ini berlanjut di bangku SMP. Aku kerap dapat order nulis puisi untuk nembak cewek atau cowok pujaan. Cinta monyet bermodal puisi ini sangat ngetop di era 80-an (mulai ketauan tuwirnya). Tidak ada honor nulis waktu itu. Aku cukup puas dengan makan gratis di kantin sekolah. Kumpulan puisi semakin menggunung, namun entah belum ada niat mengirimkannya ke media.
Saat berseragam abu-abu putih, aku mencoba kirim cerita pendek ke majalah remaja. Suatu hari saat pelajaran berlangsung, tiba-tiba aku dipanggil ke ruang Bimbingan Penyuluhan (sekarang ruang BK). Sepanjang lorong aku menduga-duga apa salahku. Ruang BP identik dengan anak bermasalah. Aku tak punya masalah! Aku merasa tidak aneh-aneh dan tak pernah dihukum sebab sebuah pelanggaran.
Perlahan kumasuki ruang lengang. Bunyi jarum jam di dinding seperti mengajak berlomba. Aku tak mau mundur sebab merasa tidak bersalah.


“Benar ini, kamu?” Nama yang amat kukenal terpampang cantik di bawah judul cerita.
Oh, jadi ini masalahnya. Dua bulan lalu aku mengirim cerpen ke sebuah majalah. Aku menulis alamat sekolah karena kupikir agak susah menjangkau alamat rumah di kampung. Benar saja. Ketika cerpen itu dimuat, pihak sekolah kelimpungan mencari tahu nama asliku sebab aku mencantumkan nama pena, tanpa menulis nama asliku. Ini menjadi pelajaran penting namun sayangnya tak menjadikan diriku rajin mengirim naskah. Aku terlalu asyik  mengumpulkan karya lalu menjadikannya dokumentasi pribadi.
Menulis puisi, cerita pendek, cerita bersambung terus berlangsung. Saat aku diterima bekerja sebagai sekretaris pimpinan redaksi di sebuah koran lokal di Denpasar, seorang laki-laki berwibawa menanyai bacaan kesukaanku. Kami mengobrol lama hingga di ujung pertemuan hangat itu baru tersadar ternyata beliau bang Adek Alwi; cerpenis senior yang karyanya kerap kunikmati di Majalah Anita, waktu itu.  Sungguh tersanjung! Ternyata aku sekantor dengan Bang Adek Alwi terlebih di hari-hari berikutnya aku juga menjadi sekretarisnya, selain menjadi sekretaris Bang Arie Batubara.
Kedekatanku dengan para penulis ternama tidak menjadikan aku rajin mengirim karya. Aku masih nulis dan sekali lagi, aku cukup puas dengan menyimpannya di tumpukan folder pribadi. Kebiasaan ini terus berlangsung  sampai aku pindah bekerja di bank swasta. Masih sebagai sekretaris Pimpinan Cabang. Di sini pun aku pernah diminta menulis puisi oleh salah seorang rekan kerja.
“Makasih ya, pusingku ilang tiap baca pusimu,” ungkap rekan kerjaku itu.
Dalam hati,  itulah yang kulakukan selama ini. Puisi menjadi sarana ‘membuang’ masalah. 
Sejak memiliki buah hati aku memutuskan menjadi ibu rumah tangga total. Kesibukan merawat anak dan memulai bisnis sempat menjauhkanku dari dunia menulis, namun membaca tetap menjadi menu harian.
Pertengahan 2005 aku dihubungi ketua FLP Bali, Mas Hanafi waktu itu, yang akan mengadakan workshop menulis artikel, cerpen, dan novel. Saat itu usaha laundry yang kami rintis tengah berkibar dan kedatangan Mas Hanafi untuk meminta kami menjadi salah satu sponsor. Deal! Aku berkesempatan mengikuti acaranya.
Peserta workshop di Denpasar rata-rata masih muda. Aku tercatat sebagai peserta paling tua, tapi pedeh ajah, hahaha. Selama mengikuti workshop itu aku dua kali terima hadiah. Pertama,  dapat termos unik sebab outline artikel berjudul  Pengaruh Bom pada Masyarakat Bali dinyatakan lolos dan siap dikembangkan. Kedua, buku novel gratis untuk kelompokku karena narasi drama dinyatakan paling bagus oleh Mas Gola Gong. Tahu nggak siy,  yang nulis narasi itu, aku… Oooow…hihihi.
Sepulang workshop tumbuh niat menulis. Dan memang aku semakin rajin nulis di sela kesibukan. Aku ke manakan, karyaku? Selalu dan selalu tersimpan rapi di komputer. Jangan ditiru!!!
Tahun 2007 bisnis yang pernah menerbangkan aku ke awan; menikmati keindahan surga dunia hingga kadang lupa cara menjejak tanah, tiba-tiba terjungkal. Aku terpelanting menyisakan derita lahir batin. Kami sekeluarga terpaksa meninggalkan Pulau Bali dan memulai hidup baru di kota kecil di Jawa Timur. Satu setengah tahun kemudian takdir membawa tapak kakiku menginjak bumi lancang kuning, Pekanbaru.
Di Pekanbaru aku memiliki banyak waktu untuk membaca dan menulis. Suatu ketika aku melihat pengumuman lomba menulis kisah  inspiratif di facebook. Aku tergerak mengikutinya. Hari itu juga kubuat daftar peristiwa pahit yang pernah kualami. Kupilih kisah suka duka menghadapi masa-masa sulit di Bali untuk kuikutkan dalam kompetisi kisah inpiratif. Aku menulisnya begitu saja. Apa yang kurasakan, itu yang kutulis. Naskah kukirim seminggu sebelum masa deadline. Setelah itu aku lebih asyik bernostalgia dengan teman-teman lama di dunia maya.
Pagi saat sibuk nginem hehe, terdengar pesan masuk di gadget.
“Slm insprtf! Messge ini adlh tindak knfirms Leutika mengenai msknya anda sbg 18 pmng lomba. Info lbh lnjt bisa diklik fb Leutika.”
Alhamdulillah, karyaku lolos! Tanganku bergetar menyalakan komputer, jari-jari beradu cepat dengan detak jantung. Tak sabar ingin melihat namaku. Saat menatap halaman pengumuman aku sengaja mencarinya dari bawah, namun tak kutemukan. Wah, jangan-jangan keliru. Aku menarik nafas panjang sebelum akhirnya mataku tertumbuk sebuah nama di barisan atas. Masya Allah, nama itu berada di urutan ketiga. Pemenang pertama dan  kedua tak asing lagi. Keduanya telah menelorkan banyak buku.
Kemenangan ini membuka mata ternyata aku mampu bersaing. Aku mulai rajin berburu informasi audisi menulis. Tak kupedulikan hadiah, kuikuti tawaran menulis dengan niat untuk mengasah kemampuan menulis. Aku belajar membidik ide, mematuhi deadline, dan siap menghadapi kesuksesan yang tertunda. Beberapa tulisanku lolos dan sebagian dikembalikan. Selain mengirim naskah antologi, aku mencoba mengirim cerita anak. Dua kali mengirim cernak ke majalah, dua kali lolos. Berlipat-lipat keyakinanku ternyata aku mampu berkarya.

Mencatat ide di mana pun termasuk saat nunggu penumpang ojek

Sejak itu buku teori menulis bertumpuk di lemari. Aku juga rajin mengikuti kelas menulis berbayar. Aku sadar, semua itu tidak menjamin keberhasilanku tanpa usaha memratikkannya. Aku beruntung berkesempatan mengikuti berbagai pelatihan menulis di antaranya; workshop menulis bacaan anak, kelas menulis pictbook, kelas menulis naskah terjemahan, menulis skenario, kelas mengedit bersama editor senior, dan lain-lain.
Sekali lagi! Gemar melahap teori dan mengikuti workshop menulis tidak menjamin karya seseorang diterima. Aku hampir putus asa ketika sejumlah naskah buku ditolak penerbit. Bukankah aku sudah menerapkan teori menulis? Bukankah aku sudah tekun mengikuti kelas-kelas menulis?
“Coba kamu berhenti nulis sebentar,” saran sahabat.
“Tidak bisa,” sanggahku, sebab aku mulai sulit berhenti nulis.
“Maksudku, coba kamu baca lagi naskah-naskah tolakan itu lalu pelajari catatan editornya,” Kalimat sahabat kali ini tidak kubantah.
Aku sepakat. Kuamati tiap huruf dari tumpukan naskah tolakan, aku cermati catatan redaksi.
Tulisan rapi, minim kesalahan tapi konfliknya kurang tajam.
Bahasanya ringan, ceritanya mengalir, tapi lama-lama membosankan.
Kenapa ya, saya belum menemukan sesuatu yang, wow! Padahal di awal sudah enak dibaca, coba direvisi lagi.
Naskah ini sudah sering ditulis, coba buat dari sudut pandang lain.
Diam-diam aku setuju kalau naskahku pantas ditolak, dengan begini aku semakin rajin berlatih. Pelan-pelan aku menerapkan saran para penulis yang sudah banyak menghasilkan karya. Misalnya, ketika jenuh menulis cerpen aku mencoba mencipta puisi, saat bosan merevisi naskah tolakan aku mengirim artikel. Tak  kubiarkan diriku berhenti menulis.
 Kini di usia ‘kepala’ empat, Alhamdulillah… belasan antologi sudah di tangan. Alhamdulillah berhasil melahirkan buku solo terbitan Kaki Langit Kencana dan Elexmedia. Alhamdulillah telah menulis sejumlah scene untuk FTV anak dan telah tayang di TV stasiun swasta.
Seorang teman pernah berujar seharusnya aku kirim naskah sejak dulu, dengan begitu mungkin aku sudah memiliki karya solo segudang. Mungkiiiin….
“Ah, aku menikmati dan mensyukuri setiap keadaan, menurutku tidak masalah memulai niat baik di usia tak lagi muda ini.”
Kawanku itu terdiam. Semula aku mengira kalimatku itu tak lain sebuah penghiburan diri. Belakangan aku kerap mengulang kata-kataku itu untuk para sahabat yang baru memulai berkarya di usia senja, seperti aku.  
Dua tahun terakhir ini aku tidak menelurkan karya apapun namun tetap mencatat setiap ide yang terlintas. Dua tahun terakhir ini aku diberi kesempatan olehNya mencecap pahit getirnya kehidupan yang aku yakini ini sebuah bentuk kasih sayangNya padaku. Dua tahun terakhir ini aku lebih banyak belajar ilmu kehidupan yang mudah-mudahan suatu hari terwujud dalam sebuah karya. Aamiin.

Salam mulia dan bahagia